Jumat, 09 Desember 2016

menjelajah tentang amarah dan ke munafikan

assalamualaikum wr.wb para pembaca setia.
di kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang apa sih,itu marah mungkin kedengaran nya simple banget tapi sebenar nya masih banyak hal yang tidak kita ke tahui tentang marah baiklah kita mulai dari hadis  yang pertama yang berkaitan degan''marah''

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ
الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ
“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai. (HR. Ahmad III/440, Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, dan Ibnu Majah no. 4286) 
wah bukan kah sungguh menarik tentang penjelasan hadis di atas dan juga sangat berfatmaaf bagi kita yang awam mengenai apa itu marah?.pasti para pembaca pernah marah kan? ya tentu semua orang pasti pernah marah saya sendiri pun pernah marah karna kita sama -sama pernah marah :) saya akan memberikan banyak info di sini agar kita bisah sama -sama menahan marah dan bisah  merasa kan manfaat nya baik lah kita mulai sekarang.

marah adalah suatu bentuk emosi yang bersifat fitrah atau bawaan pada manusia.sifat marah akan muncul manakalah seseorang mendapat semacam gangguan. marah merupah kan sifat setan yang keji ia menjerumuskan manusia melalui kemarahan nya karna dalam marah manusia sering melakukan sebuah kesalahan bahkan melakukan perbuatan keji ,jadi dapat di simpulkan bahwa marah adalah sifat hati yang harus di kelolah  agar setiap kemarahan tidak bersifat deduktif

tau kah pemaca bahwa marah terbagi menjadi dua golonggan?
 
 Tingkatan kedua; Ifrath yakni marahnya berlebihan hingga keluar dari cara berfikir jernih, cenderung  tidak dapat membedakan yang baik dan buruk, kehilangan keseimbangan mengontrol ucapannya. Raut muka dan mata orang yang marahnya tak terkendalikan menjadi kemerah-merahan, amarahnya meluap, sehingga terkadang memukul, melempar benda di dekatnya, bahkan sampai melakukan pembunuhan.

Ketiga adalah I’tidal yakni amarahnya di posisi pertengahan mampu dikendalikan. Marah dilakukan sebagaimana mestinya tetap berpegang mengikuti bimbingan agama. Ada kemarahan, namun diterapkan pada saat yang tepat, tidak melampaui batas. Sifat pertengahan ini dipuji Rasulullah. ”Sebaik-baik perkara itu ialah yag pertengahan”(HR Bukhari)